Penelitian ini menganalisis keterkaitan antara ketersediaan fasilitas kesehatan dengan persebaran kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kudus dengan pendekatan spasial berbasis SIG.
Lihat Detail PenelitianPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara ketersediaan sarana kesehatan dan tenaga kesehatan terhadap persebaran kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kudus tahun 2024. Data yang digunakan meliputi jumlah desa/kelurahan yang memiliki sarana kesehatan (BPS Kudus, 2024), jumlah tenaga kesehatan per kecamatan (BPS Kudus, 2023), serta data kasus DBD (Profil Kesehatan Kabupaten Kudus, 2023).
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan perangkat lunak QGIS 3.34. Analisis dilakukan melalui integrasi data tabular dan spasial untuk mengetahui pola distribusi dan potensi keterkaitan antar variabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecamatan dengan kepadatan penduduk tinggi seperti Kota Kudus dan Jati memiliki kasus DBD tertinggi, meskipun memiliki sarana dan tenaga kesehatan yang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lingkungan dan sosial berperan besar terhadap persebaran penyakit.
Nama: Roy Yogi Saputra
NPM: 23670085
Kelas: 5D
Penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan spasial menggunakan perangkat lunak QGIS versi 3.34 untuk memetakan dan menganalisis persebaran data antar kecamatan.
Penelitian dilakukan di Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah, yang terdiri dari sembilan kecamatan: Kota Kudus, Jati, Kaliwungu, Mejobo, Bae, Undaan, Dawe, Gebog, dan Jekulo.
Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan data tabular dan spasial untuk mengidentifikasi pola distribusi dan potensi keterkaitan antara ketersediaan fasilitas kesehatan dengan sebaran kasus DBD di setiap kecamatan.
Sedang memuat peta dari QGIS...
Peta ini menampilkan sebaran kasus DBD di Kabupaten Kudus tahun 2023. Kasus diklasifikasikan menjadi tiga kategori: Rendah (15-24 kasus), Sedang (25-36 kasus), dan Tinggi (37-54 kasus).
Sedang memuat peta dari QGIS...
Peta ini menampilkan distribusi sarana kesehatan (2024) dan sebaran tenaga medis (2023) per kecamatan di Kabupaten Kudus. Data sarana kesehatan mencakup fasilitas kesehatan di tingkat desa/kelurahan.
Data menunjukkan bahwa sebagian besar kecamatan di Kabupaten Kudus telah memiliki sarana kesehatan di sebagian besar desa. Kecamatan Kota Kudus, Jati, dan Bae menempati urutan tertinggi dalam jumlah desa yang memiliki fasilitas kesehatan.
Sementara itu, Undaan dan Dawe masih memiliki beberapa desa tanpa sarana kesehatan tetap, menunjukkan kesenjangan dalam akses layanan kesehatan.
Jumlah tenaga kesehatan terbesar terdapat di Kecamatan Kota Kudus, diikuti oleh Jati dan Bae. Jumlah tenaga medis di kecamatan tersebut mendukung pelayanan kesehatan masyarakat secara optimal.
Namun, Dawe dan Jekulo memiliki jumlah tenaga kesehatan paling sedikit, yang dapat berpengaruh terhadap efektivitas pelayanan kesehatan di daerah tersebut.
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Kudus tahun 2023 (rilis 2024), persebaran kasus DBD menunjukkan pola yang beragam dengan wilayah tertinggi di kawasan padat penduduk.
Wilayah dengan kasus tertinggi umumnya berada di kawasan padat penduduk, dengan mobilitas masyarakat yang tinggi.
| No | Kecamatan | Jumlah Kasus DBD | Kategori |
|---|---|---|---|
| 1 | Kota Kudus | 54 | Tinggi |
| 2 | Jati | 47 | Tinggi |
| 3 | Kaliwungu | 36 | Sedang |
| 4 | Mejobo | 32 | Sedang |
| 5 | Bae | 29 | Sedang |
| 6 | Undaan | 24 | Rendah |
| 7 | Dawe | 20 | Rendah |
| 8 | Gebog | 17 | Rendah |
| 9 | Jekulo | 15 | Rendah |
Hasil overlay antara peta fasilitas kesehatan dan kasus DBD menunjukkan bahwa:
Fenomena ini menunjukkan bahwa persebaran DBD tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan sarana kesehatan, melainkan juga oleh kepadatan penduduk, sanitasi lingkungan, dan perilaku masyarakat. Dengan demikian, perlu integrasi antara perencanaan fasilitas kesehatan dan strategi pencegahan berbasis lingkungan.
Ketersediaan sarana & tenaga kesehatan di Kab Kudus menunjukkan tingkat pemerataan yang cukup baik di wilayah perkotaan, namun masih terbatas di daerah pedesaan seperti Dawe dan Jekulo. Kesenjangan akses ini memerlukan perhatian serius dalam perencanaan kesehatan.
Kasus DBD tertinggi ditemukan di Kecamatan Kota Kudus dan Jati, wilayah dengan kepadatan penduduk dan aktivitas sosial tertinggi. Hal ini mengindikasikan pengaruh faktor demografi terhadap penyebaran penyakit. Kondisi lingkungan padat penduduk turut mempercepat penularan DBD.
Hasil analisis spasial menggunakan QGIS menunjukkan bahwa persebaran kasus DBD tidak berkorelasi langsung dengan jumlah sarana atau tenaga kesehatan. Faktor lingkungan, mobilitas, dan perilaku masyarakat memiliki pengaruh yang lebih signifikan.
Pemerintah daerah perlu memperkuat sistem surveilans spasial berbasis SIG untuk mendukung pengambilan keputusan dan perencanaan kesehatan masyarakat secara geografis, dengan fokus pada penanganan faktor lingkungan dan sosial.